Waktu Kita Berdetak Sama

Waktu kita berdetak sama
Namun, jantung ini belum tentu sejalan dalam detaknya

Ada yang begitu tenang, setenang aliran sungai tak dirundung badai
Ada yang begitu menggebu, seolah sedetik kemudian detak itu akan menjadi debu

——

Waktu kita berdetak sama
Namun, derap langkah ini belum tentu serasi dalam perjalanannya

Ada yang berjalan santai
Ada yang berjalan cepat
Ada pula yang berlari

——

Waktu kita berdetak sama
Tapi kuyakin, isi setiap detakan itu tidaklah sama
Setiap diri punya tujuan dan kecepatannya sendiri selama detak jantung belum berhenti

Tak apa, setiap diri memiliki langkahnya masing-masing
Garis akhir itupun, tidak sama bagi setiap perjalanan

Maka, tidak ada yang terlalu cepat, pun terlalu lambat
Tidak ada pula yang kalah, selain mereka yang tidak menuntaskan langkah
Jika berhasil sampai garis akhir masing-masing, maka semua jadi pemenang bukan?

——

Waktu kita berdetak sama
Tapi setiap perjalanan, memiliki langkah, pun debar jantung yang berbeda

Kecuali…
Kau mau bergabung dalam perjalanan ini, tanpa menghakimi kecepatan detak jantung dan derap langkahku ketika berada di sampingmu

Tapi, apa menyamakan derap langkah dan detak jantung adalah keputusan bijak?

——

31.03.20
23.53

Sahabat dan Guru Terbaik

Kematian selalu menjadi guru terbaik dalam hidup. Hanya saja, sering kali memang mudah kita abaikan. Dengan sombongnya kita mengucap janji esok hari, seolah-olah masih bernyawa diri ini.

Kematian terasa begitu jauh, jika kita dalam kondisi baik-baik saja. Melenakan memang, wajar mudah terlupa.

Tapi, hei!
Bukankah setiap malam kita sebenarnya menghadapi kematian? Bukankah tidur yang begitu diharapkan adalah bentuk dari sebuah kematian kecil?

Ruh kita digenggam-Nya. Entah diizinkan kembali atau tidak di esok hari.

Dan, hei!
Tidur tidak hanya saat malam hari bukan? Bagaimana jika tiba-tiba kita mengantuk saat bekerja, lalu sengaja tidur untuk istirahat sejenak, dan ternyata…
Ruh tidak kembali.

Tidakkah kita menjadi begitu dekat dengan kematian?

Sungguh, kita tidak pernah tahu kapan nyawa meregang dari raga. Siapa yang menjamin saat berjalan kita tidak tersandung sesuatu, lalu jatuh dan meregang nyawa? Siapa yang menjamin saat kita berkendara, ada pengendara lain yang menyenggol kita, lalu kecelakaan menjadi sarana malaikat menjemput kita? Siapa yang menjamin bahwa setelah kata ini terbaca, nyawa masih dalam genggaman?

Tidak ada yang bisa menjamin, kawan.

Jika dikatakan bahwa kepastian yang ada dalam hidup adalah ketidakpastian, maka biar aku tambahi.

Sudah berulang kali kukatakan bahwa, dalam hidup ini hanya ada dua kepastian, yaitu ketidakpastian dan kematian. Kematian pasti datang pada setiap diri, meski waktunya tidak pasti. Seluruh hal yang terjadi dalam hidup pun pasti belum ada yang pasti.

Maka, sejatinya kematian adalah kepastian yang tidak pasti. Kematian yang begitu dekat, bahkan lebih dekat dari sanak saudara ataupun sahabat.

Jadikan kematian sahabat terdekat yang selalu kita ingat. Maka, insyaa Allah, hidup ini akan terus terisi dengan segala hal yang berfaedah bin manfaat karena semakin dekat kita dengan kematian, semakin timbul rasa ingin mengisi hidup dengan hal-hal terbaik.

Ku yakin, tidak ada seorang pun manusia yang ingin mati sia-sia.

Atau hanya anggapanku saja?

——–

#30DayWritingChallenge
#30DWCJilid22
#Day29
#TemaKematian

Harga Kehidupan

Mungkin memang sifat manusia yang lebih menghargai suatu hal ketika ia hampir atau telah hilang.
Hal yang dianggap biasa saja dalam keseharian, mendadak menjadi begitu dihargai ketika kehadirannya dirasa tinggal sebentar lagi.

Kehidupan misalnya.

Manusia sering kali tidak menghargai kehidupan yang telah Tuhan berikan jika belum ditegur dengan satu hal yang mengancam hadirnya. Hidup seringnya diberi asupan-asupan sekenanya saja, atau bahkan tidak diberi asupan bergizi sama sekali. Seolah-olah hidup dan sehat akan hadir selamanya.

Nyatanya, ketika sakit menyerang, ditambah vonis tenaga ahli yang mengatakan bahwa kepemilikan hidup tinggal sebentar lagi, barulah manusia kocar-kacir menyesali kehidupannya yang penuh dengan kesia-siaan. Manusia pun mulai benar-benar menghargai sisa hidupnya dengan melakukan banyak kebaikan atau mewujudkan banyak keinginan yang terpendam.
Mewujudkan semua yang terlupa ketika memang belum diambang batas.

Seperti saat ini misalnya.

Wabah yang menyerang, menjadi sebuah pandemik yang dikatakan membahayakan seluruh dunia. Manusia berbondong-bondong memborong kebersihan, kesehatan, dan melakukan penjagaan terhadap diri. Diri pun menjadi begitu dihargai. Seolah-olah selama ini hidupnya tidak diisi dengan pengurusan yang layak.

Orang tua menjadi sering menyuruh anaknya mencuci tangan, mengurangi jajan sembarangan, menyuruh untuk memakai masker, dan memberi asupan lebih baik dibandingkan biasanya. Buruk? Oh, tidak. Sungguh ini menjadi salah satu dampak positif karena manusia menjadi semakin peduli dengan kehidupan yang Tuhan titipkan.

Mungkin memang masih ada beberapa yang cuek, bahkan terlalu cuek, pun ada yang terlalu percaya diri. Keduanya hampir memegang prinsip yang sama,

“Kalau Tuhan belum menakdirkan diri ini mati, tenang saja.”

Tapi, entahlah. Pemikiran ini selalu membuat semuanya kompleks. Selalu bertanya-tanya, apa salahnya melakukan tindak pencegahan? Apakah keimanan pada Tuhan lantas menyampingkan seluruh usaha yang dapat dilakukan?

Aneh ya?

Entahlah, hal-hal yang tidak biasa memang sering kali terlihat aneh.

Membingungkan ya?

Pemikiran ini lebih bingung lagi dengan kondisi di mana kehidupan rakyat seolah memiliki nilai yang berbeda antar satu pemerintahan dengan pemerintah lain.
Lebih bingung lagi dengan manusia-manusia yang masih menjunjung tinggi egoisme diri, sehingga tertutup dengan segala masukan dan saran.

Lebih bingung lagi dengan diri yang bingung memikirkan hal ini dan bertanya,

“Jadi, sebenarnya, berapa harga kehidupan?”

Entahlah…

Sepertinya semboyan Love Yourself kini tidak hanya melekat pada kondisi mencintai diri apa adanya dengan beragam naik-turunnya fase kehidupan. Namun, melekat pula pada usaha-usaha untuk lebih menghargai kehidupan yang Tuhan berikan dengan memberi asupan dan perawatan yang layak meski tiada wabah penyakit menyerang.

Jangan sampai kita hanya menghargai kehidupan ketika ia hampir direnggut, hilang, dan mati bersama waktu.

———-

#30DayWritingChallenge
#30DWCJilid22
#Day28
#TemaKehidupan

Asa yang Terlahir Nyata

Pernah jariku menulis asa dalam udara
Memadu impian, menjemput sebuah kehadiran
Setiap malam sebelum terpejam, hadirmulah yang selalu ku gumam dalam diam
Setiap bangun setelah termenung, bayangmulah yang selalu membuatku mematung
Menatap langit-langit jangkung, dengan harap dalam relung

Kau tercipta dari bahagia
Tercipta pula dari rasa dalam masa
Kau tercipta dari kecewa
Tercipta pula dari lara dalam bara

Kau tercipta dari separuh jiwa
Tertata tatih rata patih kata

Tak ayal lahirmu begitu lama
Tak ayal harap hati begitu persada

Lantas…
Ku beranikan diri membawamu dalam nyata
Agar asa tak sekedar maya

Namun, apa daya
Ketakutan hadir membelit nadir
Begitu takut pada manusia lain
Dengan sifat nyinyir menusuk nadi
Hanya peduli pada hidupnya yang bepilin
Tak peduli jika nyinyir berbuah mati

“Ah, sudahlah. Itu urusan mereka. Tak usah kau pedulikan.”

Batinku membisik pelan
Menguatkan hati yang hampir tertelan

Hingga kelahiranmu hadir sungguh nyata
Menembus cakrawala
Menghancurkan simalakama
Setelah waktu berlalu lama

Betapa aku sangat bersyukur
Duduk tersungkur menahan haru terbawa sagur
Kelahiranmu mencipta bahagia
Kelahiranmu mewujudkan asa

Lembar demi lembar kubuka, aroma khas semerbak memenuhi indera
Goresan tinta dalam dirimu,
menjadi bukti perjalanan hidupku

Ah, ternyata sudah sejauh ini

Terima kasih untukku
Telah melahirkan lembaran hidup dalam karya fisik yang nyata

Terima kasih untukmu
Telah lahir dari tinta kehidupanku yang tak singkat, tetapi bermakna dalam lembaran beraroma

Kini, aku tahu…

Keberanian, akan melahirkan asa
Asa yang diperjuangkan, akan melahirkan karya
Karya yang nyata, akan melahirkan kenangan tak terlupakan oleh masa

Masa pun akan menjadi saksi, kelahiran karya baru yang tak luput dari dera
Hingga masa akhirnya berakhir, menutup bersama waktu

———-

#30DayWritingChallenge
#30DWCJilid22
#Day27
#TemaKelahiran

Kuat

Hujan itu kuat, ya?
Meski ia jatuh berkali-kali, ia tetap memberi bahagia bagi bumi.
Meski ia kadang dibenci, tak lantas ia mengabaikan bumi.

Bumi itu kuat, ya?
Meski ia tertimpa hujan yang jatuh beramai-ramai, ia tetap menyerap airnya dengan damai.
Meski ia kadang tak sanggup menampung lagi, tak lantas ia melindungi diri. Itu tugas langit.

Langit itu kuat, ya?
Meski ia terpapar panasnya matahari, ia tetap melindungi bumi tiada peri.
Meski ia kadang bergumul dengan petir yang menyambar dalam celah, tak lantas ia berontak pecah dan terbelah.

Diri ini kuat, ya?
Meski hujan badai menyerang…
Meski kehidupan menegang penuh garang…
Meski harus tersungkur pada bumi saat tak lagi ada yang peduli…

Diri ini masih berdiri.
Tegak semerbak.

Mungkin memang lelah jika harus terus tegak.
Tak apa sesekali membungkuk dan melemaskan tengkuk.
Lelah kan tak perlu dipaksa.
Diri pun butuh dicinta.
Dan tentu, butuh bahagia.

Kau tahu?

Bahagia tak hanya melulu dari dia.
Ada kita.
Aku dan diriku yang bersatu dalam Kita.

Kita saling membahagiakan.
Kita saling memeluk.
Kita saling mengusap hujan di pipi.

Kita yang akan terus hadir, bergandengan menjemput takdir.

——

#30DayWritingChallenge
#30DWCJilid22
#Day26
#PuisiProsa

Gersang Berulang

Setiap hujan turun dengan rintik maupun derasnya.
Setiap itu pula doaku tak gentar kulangitkan.

Setiap langkah dibuat, maju maupun mundurnya.
Setiap itu pula memoriku terbang berkelana.

Melangitkan doa untukmu.
Berkelana merajut masa lalu dan masa depan kisah kita.

Namun, itu dulu…

Kini,
Seluruh tetes tinta yang pernah kau torehkan dalam lembaran hidupku, basah oleh hujan.

Luntur.
Kabur.
Tersungkur.

Ketidakterbukaanmu atas sikapmu, membuatku terjerumus dalam perangkap kebodohan.
Ketidakmengertianku atas sikapmu, membuat segalanya terlambat untuk diungkapkan.
Terlambat untuk diakui, terlambat untuk selesai dalam kebaikan.

Mungkin memang Tuhan sudah menggariskan takdir.
Bahwa,
benih yang terbelah lalu tersiram air-air kenangan, tidak untuk tumbuh menjadi cinta secara nyata.
Ia tumbuh, namun lantas gugur karena badai keegoisan menyerang.

Mungkin memang belum sekuat itu, cinta yang tumbuh,
dalam dirimu.
Maka, dengan mudahnya kau menghempas dan melangkah pergi tanpa peduli bekas-bekas yang kau beri dalam benih rasa harapku.
.
.
.

Aku selalu bertanya-tanya…

Kau anggap apa aku ini?
Semudah itu kau katakan cinta ketika tak lama lagi kau menjadi miliknya.

Kau anggap apa aku ini?
Semudah itu kau pergi tanpa rasa bersalah setelah membiarkanku dalam angan tak terang.

Entahlah…
Aku pun tidak tahu apa yang kurasa,
saat ini.
Mungkin aku memaafkanmu, namun tak bisa melupakan keegoisanmu.

Mungkin,
Benihku telah tumbuh terlalu kuat, untuk kemudian ditebang perlahan-lahan.

Sakit,
Tapi aku pun sudah biasa.

Bukan cinta jika tanpa lara.
Pilihanku untuk menanam cinta untukmu, pilihanku pula untuk menerima segala yang terjadi atas pilihan itu.

Apakah aku masih cinta?

Entahlah,
Kurasa tidak.

Aku membencimu.
Tapi membencimu begitu melelahkan.

Aku tidak ingin kau bahagia dengannya.
Tapi hal itu pun membuatku tidak bahagia.
.
.
.

Baiklah, aku mengalah.
Biar kutebang sendiri pohon cinta atas namamu yang telah tumbuh di hatiku.
Atau kubiarkan ia gersang tanpa cinta baru yang hadir dalam hidupku.

Kau tahu?

Ketakutan terbesarku dulu, adalah jatuh cinta.
Lalu, kau hadir memberi cinta baru, menyuburkan taman hatiku yang sudah lama gersang.

Ironis bukan jika kau juga yang menggersangkan taman hati itu lagi?

Kini aku kembali takut jatuh cinta.
Karenamu, yang pernah menyuburkan lantas menggersangkannya lagi.

Entah sampai kapan ketakutan itu mengekang.

Semoga Tuhan berbaik hati padaku.
Mengirim cinta yang takkan lagi membuat gersang.
Mengirim cinta yang membahagiakan.
.
.
.

Ah, bodohnya aku.
Bukankah cinta dari Tuhan seharusnya cukup?

——-

#30DayWritingChallenge
#30DWCJilid22
#Day22
#TemaCinta

Bagian Hidup

Kita pernah menjadi bagian hidup masing-masing

Melangkah bersama
Bertujuan yang sama
Tersenyum bersama
Berbagi bersama
Menangis bersama

Namun kini,
Kita tidak menjadi bagian hidup masing-masing
Kamu bukan bagian hidupku lagi
Aku pun bukan bagian hidupmu lagi

Bukan, dan tidak akan lagi

Kebersamaan lalu hanya hidup yang berpapasan,
lalu pergi…

Kau dengan pilihanmu
Aku dengan hidupku